Kopitalisme First

•November 28, 2006 • Leave a Comment

<a href=”http://www.technorati.com/claim/m7tm8jtyry” rel=”me”>Technorati Profile</a>

DAS KOPIkenTAL: Tata Cara Mentertawakan Diri

•August 29, 2006 • Leave a Comment

Das KOPIkenTAL: Tata Cara Mentertawakan Diri

Quote 01:

Saya fikir Indonesia harus berani untuk MENTERTAWAKAN DIRINYA sebagai sebuah BANGSA. Agar -setidaknya- ada sedikit enersi untuk bangkit melawan ketertinggalan./End of quote.

Oleh: SeksPeare,  1 Juli 2005, thread:  “Apakabar Dimata Seorang Cafeist”

Quote 02:

Bangsa ini benar2 berani menertawakan bangsanya sendiri. Termasuk menginjak2 bendera atau membakar bendera merah putih (jika perlu)./End of quote.

Oleh: Pemerhati Bangsa, 24 Agustus 2006, thread:  “Apakah Kita Sudah Merdeka?”

Quote 03:

Bangsa ini harus berani menertawakan dirinya sendiri, alias bisa tahan dikritik. Bangsa amburadul gini kok sensi dikritik./End of quote.

Oleh: Republik BBM, Effendy Gozali, (Sent by PB) 24 Agustus 2006.

Quote 04:

Mungkin mudah bagi kalian untuk mentertawakan tempurung orang lain (baca: agama lain) — tetapi bagaimana dengan tempurung kalian sendiri? Yg terakhir ini malah jauh lebih penting bagi kesehatan jiwa (dunia – akhirat malah!) anda masing2./End of quote.

Oleh: B@b, 24 Agustus 2006, “Urusan Katak Dalam Tempurung”

Kopitalisme:

Mentertawai orang lain, kelompok lain, agama lain, budaya lain, bangsa lain adalah sudah mendarah daging dalam jiwa masyarakat, baik online maupun offline.

Melalui beberapa mailing list, dalam sejumlah postingan, “Kopitalisme” mencoba untuk ‘me-reparasi’ semacam “korslet mental” yang telah lama diderita oleh -umumnya- komunitas bangsa(T) IndoneSia(L), tak terkecuali kepada mereka yang ‘mahir sihir menyihir’ tukarkata secara ‘Akade… MISTIK!!!’.   

Secara ‘online’ para anggota CIAs (Cafeist Intelligent Agents) mendapatkan data sebanyak 122 pesan email, yang intinya terdiri dari kata ‘mentertawakan’ dan kata ‘diri’. Terdiri dari dua kata dan bukan satu kalimat.  Sedangkan kedua kata tersebut yang tergabung menjadi kalimat “mentertawakan diri” jumlahnya sangat minim.

Sementara untuk pesan email yang intinya ‘mentertawakan diri’ menjadi satu kalimat, terdapat ‘pioneer’ yakni pesan awal, yang ditulis oleh ‘Gebrak Nusantara’ lebih dari setahun yang lalu, pada kalimat sebagai berikut:

” Anda nanya kan ? Aku milih apa? Aku milih “mentertawakan” diri, mentertawakan “kepintaran” orang “pintar” dan mentertawakan “peradaban” ini…” (Ini sesungguhnya adalah ’spirit’ yang junjung tinggi, ditawarkan dan diedarkan oleh ‘Kopitalisme’)

Tanggapan “Gebrak Nusantara” diatas adalah kepada ‘mendiang’ Mustikawati, dalam thread “Viruz Tikuz Menikuz” di Apakabar, hari Jum’at 20 May 2005.

======================================================

Kopitalisme:

Kopitalisme” adalah sebuah  cara pandang atau perspektif -

sedemikian rupa sehingga-  dimana segala sesuatu adalah

“Karikatur”.  Baik pada level “SOSIOLOGIS-POLITIS” maupun masuk pada

level  “MIND and MENTAL” seseorang. 

Semuanya –TANPA AMPUN- adalah “KARTUN” dan “KARIKATUR”!

(Halaman: DAS KOPIkenTAL)

===================================================

Apa maksud dari ‘mentertawakan diri’?…

” Kekusutan itu terdapat dalam ‘mindset’ bangsa kita” Demikian Val Helsing.

Penertawaan diri akan banyak kegunaannya, salah satu dan yang terpenting adalah untuk ‘Introspeksi’ apakah pada level Individual maupun Institusional. Pada level individual akan sangat bermanfaat untuk mengurai kekusutan mindset yang dimaksud oleh brother Helsing.

Pada tulisan dari Ms. Lianny Hendranatta, seorang Psikolog berjudul ‘T.R.A.P.’ yang merupakan singkatan dari ‘Tradisi, Ritual, Atribut, Predikat’ juga secara tersirat mendukung statement Bro Helsing diatas. 

Demikian pula dalam  ‘Kopitalisme’ terdapat sebuah ‘Sabda’ yang berkonotasi untuk menyindir tentang halnya ‘tradisi’ – ‘ritual’, yakni:

“One of the most universal (morning) ritual, is to drink coffee…”

‘Sabda’ tersebut, secara spontan dilontarkan ketika menjawab pertanyaan “What can unite us?” oleh salah seorang rekan aktifis kemanusiaan dan kesetaraan gender dari Canada , ketika sedang ngobrol di sebuah café di Pulau Vis, Croatia . Dan saya tambahkan, bahwa dengan berfikir untuk meng-unite kelompok kelompok manusia cendrung kita tergelincir kepada pembentukan ‘isme-isme’ yang selama ini  sangat jelas telah mengkotak kotakkan ummat manusia. Dan pada gilirannya tinggal menunggu waktu seorang ‘PoliTikus’ akan memanfaatkan hasil olah pikir tersebut dan menjadikannya sebagai ‘alasan perjuangan’ dalam bentuk ‘Ideologi’. Padahal yang mereka -PoliTikus- itu pikirkan adalah kepuasan, keuntungan dan lubang kantong mereka sendiri.  

Statement saya itu telah dicontohkan -with all respect- oleh ‘keteledoran’ Karl Heinrich Marx (1818 – 1883) sendiri, dengan -hanya- mengatakan bahwa ‘Agama adalah Opium’! Itu tak lebih dari sebuah statement ‘parsial’ karena lupa ‘memagar’ hasil olah pikirnya dengan menyatakan bahwa ‘Ideologi-lah yang Opium’, sehingga 34 tahun setelah meninggal, olah pikirnya itu lalu ‘ditunggangi’ secara politis, sebagai ‘Ideologi perjuangan’ oleh Lenin.

Demikianlah, kita belajar dari masa lalu, mengambil yang baik membuang yang buruk, untuk melangkah dan menatap lurus kemasa depan. Untuk itu, mari mentertawakan diri sendiri…

Berbagai jenis ‘ritual’ penertawaan diri, Sebaiknya dimulai dari level ‘MIND & MENTAL’ diri sendiri dahulu (dalam hati saja sudah lumayan kok) lalu jika bisa, secara bersamaan -paralel- dengan mentertawakan diri sebagai suatu entitas ‘AKADEMIK’ -  ‘ETNIK’ – ‘PROFESI’ – RELIGI & ISME ISME’  hingga pada level ‘BANGSA’ Sesuai dengan ‘Sunnah’ Kopitalisme: Ideologi Adalah Opium.    

‘Kopitalisme’ sendiri adalah sebuah ‘paronomasia’ yang berkonotasi  untuk ‘mengejek’ ancient terms tentang ‘isme isme’, dan sempat mendapatkan beberapa ‘ekor’ kelinci percobaan di milis milis. Dan terlihat betapa ‘mind’ dan ‘mental’ mereka sedemikian TERPENJARA dan TERPERANGKAP oleh ‘dunia’ mereka sendiri, ‘ritual’ mereka sendiri, termasuk ‘ritual’ dalam bentuk ’seminar’… Talk.. Talk… Talk… Intellectual exercise… dll..   

Quote:

Setiap ‘pihak’ telah melakukan perannya, baik atau buruk torehan sejarah itu adalah ‘buku’ yang perlu kita baca, namun bukan untuk sekedar berfantasi nostalgia. Proses ‘membaca’ -menurut standard saya- adalah melepaskan diri dari isme-isme dahulu, jika perlu ‘mentertawakannya’ (‘penertawaan isme-sime’  saya lakukan dengan ratusan tulisan terhimpun dalam kumpulan satire ‘PQ’). End of quote.

Oleh: SeksPeare, tanggapan terhadap Sang, pada thread “Apa Yang Kurang Dari Bangsa Sebesar Indonesia? Part II. JUM’AT 15 April 2005.

Mentertawakan diri sebagai sebuah entitas etnik, dianjurkan membaca Puisi Sang “Burung Merak” Rendra, berjudul “Megatruh”.  

Sedangkan yang based on religion, silakan baca “Internet Itu Agamanya Mang Ucup”, tulisan dari Mang Ucup.

Selanjutnya mari kita tunggu secara berjamaah tulisan tulisan serupa dari entitas etnik dan agama lainnya…  

Anjuran “Mentertawakan Diri” sebagai sebuah “Bangsa”

Quote: “Well, saya menganggap bahwa sebagaian besar orang yang saya kenal sangat kaku dalam memandang falsafah hidup, dan jarang sekali ada yang mau sebentar saja untuk mentertawai diri sendiri… Saya fikir Indonesia harus berani untuk MENTERTAWAKAN DIRINYA sebagai sebuah BANGSA. Agar -setidaknya- ada sedikit enersi untuk bangkit melawan ketertinggalan. Mentertawakan diri adalah terapi yang mujarab, sepanjang pengalaman saya dalam mengatasi segala macam persoalan pribadi. Apakah itu bisa diterapkan dalam sebuah komunitas… Well, saya coba melalui sebuah forum milis namanya Apakabar”/End of quote.

Oleh: SeksPeare, dalam thread “Apakabar, dimata seorang Cafeist” Jum’at 1 Juli 2005…

Bisa juga “mentertawakan diri sebagai bangsa” dengan mengikuti ” 5 Commandements Bagi Indonesia Mengelola Globalisasi” pada halaman pertama situs “Kopitalisme”. http://kopitalisme.tk

Mentertawakan diri sebagai suatu “Ritual Jum’atan”…

Untuk itu, sekarang perhatikan semua pesan diatas sejak lebih dari setahun yang lalu:

- JUM’AT, 15 April 2005: Apa Yang Kurang Dari Bangsa Sebesar Indonesia ? Part II.

- JUM’AT, 20 May 2005: Viruz Tikuz Menikuz.

- JUM’AT, 01  Juli 2005: Apakabar Dimata Seorang Cafeist.

Dan lebih setahun kemudian pada hari ini:

- JUM’AT, 25 Agustus 2006: DAS KOPIkenTAL: Tata Cara Mentertawakan Diri.

Sekarang sanggupkah rekan saudara sebangsa, se-cyber dan setanah air -setiap selesai  “JUM’ATAN”- lalu ke warkop terdekat, untuk mentertawakan diri masing masing? Tidak usah secara berjamaah, dalam hati aja… Kok!

May FUN be with you…

Kopitalisme

http://kopitalisme.tk

http://sekspeare.tk

DAS KOPIkenTAL: Inilah Identitas Ke-Indonesia-an Itu: Talk…Talk…Talk…

•August 8, 2006 • Leave a Comment

Das KOPIlenTAL: Inilah Identitas ”Ke-Indonesia-an” itu: Talk Talk Talk… Sinyalimen dari “Kopitalisme” tentang “Talk Talk Talk” sebagai “Unfortunate Culture” bangsa ternyata diperlihatkan secara telanjang dalam debat “Mencari Keindonesiaan” di Forum Pembaca Kompas. Dipertontonkan oleh seorang “akademisi”. Persis seperti apa yang diillustrasikan dalam karikatur berikut: http://earthunion0.tripod.com/qarikatour/id15.html Pada awalnya, “Kopitalisme” mengomentari thread yang ditulis oleh Ninuk Mardiana Pambudi, yang setelah membaca artikel berjudul “Mencari Identitas
Indonesia”. Untuk selanjutnya “Kopitalisme” bermaksud akan mengaitkan dengan salah satu MASALAH SOSIAL, yakni: TINGKAT PENGANGGURAN.
 
http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0607/31/nasional/2844202.htm Di thread “Mencari KeIndonesiaan” ini, dipertunjukkan dengan “gemulai” oleh seorang “AKADEMISI” TERHORMAT, bahwasanya “KeIndonesiaan” itu adalah “Talk… Talk… Talk”… Persis apa yang disinyalir oleh “Kopitalisme” Hingga pada “Das KOPIkenTAL” ini dibuat, tanggapan terhadap artikel dari Ninuk Mardiana yang sedianya ingin dikupas oleh “Kopitalisme” justru tidak disinggung sama sekali. Kopitalisme ingin menunjukkan dimana “kebocoran” atas artikel tersebut.    Nah, Ikhwanul Cafein yang saya hormati, mari kita simak sambil minum kopi. Seperti biasa, “Kopitalisme” membuat statement yang bikin “sewot” dengan harapan pembaca atau penulis artikel tersebut terpancing untuk “brain storming”.  Postingan “Kopitalisme” adalah sebagai berikut: 

“Artikel ini menambah koleksi artikel yang saya kumpulkan sebagai “bukti” bahwa peran “Sosiolog” dan “Budayawan” (akademistik) di Indonesia terlambat mencerna fenomena “globalisasi”. Status mereka sebagai “intelektual” sudah patut dipertanyakan. Nampaknya mereka seperti baru terbangun dari mimpi buruk!” Lalu, selanjutnya terposting dengan quote sebagai berikut: Ngomong-ngomong, bisakah Anda lebih rinci memberi contoh sosiolog dan budayawan Indonesia mana yang Anda sebut “baru terbangun dari mimpi buruk” dan “terlambat mencerna globalisasi” itu? Umar Kayam? Mangunwijaya? Imam Prasojo? I. Wibowo? Goenawan Mohamad? Paulus Wilutomo? Komentar Kopitalisme:Apa barangkali definisi “intelektual” itu merupakan status yang sudah pasti sama dan sebangun dengan “staf pengajar”? Ataukah “intelektual” itu adalah harus seorang sarjana? Apapun itu, bagi “Kopitalisme” tidak penting karena it’s all about “status” aja…   Secara jelas, bahwa trik untuk menutupi ketersinggungan “status”nya sebagai “akademisi” adalah trik yang lumayan kampungan: Berlindung di balik nama nama tokoh, ketimbang –atas nama sendiri-  ingin mengupas isi artikel yang dibawakan oleh Ninuk Mardiana Pambudi.   Salah satu persoalan sosial dalam negri adalah tingkat pengangguran, hal mana telah lama menjadi pencermatan berbagai institusi dan lembaga baik pemerintah maupun non pemerintah. Sinyalimen sementara yakni salah satu penyebabnya adalah tidak sinkronnya teori teori yang diajarkan kepada mahasiswa dengan dunia real di luar kampus.  Apakah kaum sosiolog dan budayawan (akademisi) selama ini “bungkam” atas fenomena tersebut? Seperti apa yang diungkapkan oleh “Yanti”: Quote: saya sudah lulus dari jurusan soiologi di sebuah universitas di
Indonesia. Dari mulai masuk sampai saya sudah mendapatkan gelar sebagai seorang sarjana sosiolog, saya banyak menlean teori- teori yang banyak dari luar. semisal talcot parson, durkheim, weber,
foucoult, habermas, marx, dll tidak bisa saya sebutkan dan satu banding seribu menyebut ilmuwan
indonesia. yang kelemahannya adalah tidak ada sinkronisasi apa
yang dipikrkan oleh ilmuwan itu dengan konteks permasalahan di
indonesia. (Yanti Yanti)
 

Komentar Kopitalisme:Apakah “sosiolog” mau mengakui hal ini? Atau bungkam saja? Sekali lagi, salah satu permasalahan sosial dalam negri adalah TINGKAT PENGANGGURAN!    Selanjutnya, Kopitalisme memberi illustrasi melalui “tafsiran” atas “sabda” John Bon Jovi melalui surah “You give love a bad name” Dimana dalam reff dikatakan:” I play my part and you play your game, you give love a bad name” Untuk memperjelas perbedaan titik pandang. Kopitalisme memiliki ‘grounding’ dalam melihat realitas social tentang pengangguran, sedangkan yang satu lagi sibuk berlindung dibalik nama nama tokoh. Hingga disini, cukup bagi Kopitalisme membawa contoh salah satu “Unfortunate Culture” bangsa yang menjadi identitas keIndonesiaan: Talk… Talk… Talk…> Intellectual Exercise.Apa yang dituliskan dalam Das KOPIkenTAL: Trust, Business & NGO, sbb: Quote:Moreover, in the past many representatives of NGOs have not had much knowledge about the economy and the issues that are emerging…”  Apakah kata “NGO” diatas juga relevan jika kita menempatkan term “Sosiolog”? Pembaca bisa mencerna dan atau membahasnya sendiri…   

Selanjutnya akan kita simak: Das KOPIkenTAL: Lennon & Lenin. 

May FUN be with you 

Kopitalisme

http://kopitalisme.tk   

DAS KOPIkenTAL: LENNON & LENIN

•August 8, 2006 • Leave a Comment

Das KOPIkenTAL: Lennon & Lenin

Perkenankan saya mengawali tulisan ini dengan kalimat “Be… Mr. Lennon, NOT Mr. Lenin!”

Selanjutnya mari kita simak ‘tafsir’ a’la ‘Kopitalisme’ atas surah ‘Imagine’ yang disabdakan oleh Sir. John Winston Lennon (1940 – 1980) pada ‘ayat ayat’ berikut:

“Imagine, there NO COUNTRIES… It isn’t hard to do… Nothing to kill or die for… And NO RELIGION too…”

Tafsir:

Secara literal agak sulit -setidaknya saat ini-  untuk membayangkan kita ini tanpa Negara, meskipun menurut Mr. Lennon tidak sulit melakukannya (it isn’t hard to do) Kata ‘to do’ ini kami tafsirkan sebagai ‘membayangkan’ – ‘ it isn’t hard to do, to imagine’.

 Sebagai misal, kita masing masing harus dilengkapi passport sebagai document identitas diri yang menyebutkan asal dari Negara mana, jika kita bepergian ke luar negri. Demikian halnya ketika kita sedang berada dalam negri, document identitas kita, yakni ‘ktp’ terdapat kolom ‘agama’ sebagai bagian dari identitas tersebut.

Seperti halnya di dalam negri untuk check in ke sebuah hotel, maka penunjukan ktp adalah bagian dari prosedur, pun juga diluar negri, document identitas dalam wujud passport tersebut dibutuhkan sebagai syarat administrasi-legal-formal.  Demikianlah pada taraf tertentu ‘mimpi’ dari Mr. Lennon tentang ‘no countries’ dan ‘no religion’ belum bisa ‘membumi’.

Namun ada beberapa tempat yang bersifat ‘universal’ dimana anda tidak perlu menunjukkan document identitas anda, yakni: Ketika sedang berada dalam kawasan alam wisata dan dalam sebuah ‘café’.

Di dalam sebuah café, kita bisa duduk bercengkrama, minum kopi bersama dengan orang orang yang berasal dari
kota atau Negara lain tanpa mempersoalkan tempat asal kita masing masing secara administrative-legal-formal. Kalaupun diangkat sebagai topic ‘chit-chat’ hanya dalam konteks sharing info dan pengalaman serta kultur masing masing secara ringan.

Para pemilik café sejauh ini pula tidak ada yang merasa perlu mempersoalkan agama masing masing sebagai sebuah ‘institusi’ pembeda derajat manusia dan kemanusiaan pengunjungnya.  Tidak pernah terdengar ada café untuk orang yang beragama anu dan untuk orang yang beragama itu. Atau café yang hanya diperuntukkan bagi pengunjung yang tingkat ‘ketaqwaannya’ dijamin oleh ‘institusi’ ini dan kelompok si itu. Semua setara dan sederajat. Yang membedakan adalah setelah minum apakah itu kopi susu, kopi kental, atau cappuccino, anda membayar atau tidak.

Melihat dan mengamati kehidupan serta tingkah laku manusia dalam ruang café tersebut, memang tidaklah sulit untuk membayangkan ‘mimpi’ Mr. Lennon: ” Imagine, all the people living live in peace…”

Mari kita menyimak ‘ayat’ selanjutnya:

” You may say I am a dreamer… But I am not the only one.”

Memang Sir. John Winston Lennon tidak sendirian sebagai seorang ‘pemimpi’. Dan dari ‘ayat’ ini ‘Kopitalisme’ mengajak untuk sekedarnya menengok ‘mimpi kaum Bolshevik.’

Jauh sebelum surah ‘Imagine’ tersabdakan, tepatnya pada tanggal 25 Oktober 1917, juga terdapat seorang ‘pemimpi’ yang mempunyai impian yang mirip dengan ‘ayat ayat’ yang disabdakan oleh Mr. Lennon. Yakni sebuah tatanan PERADABAN masyarakat yang equal, setara dan sederajat tanpa kelas. Sebuah tatanan peradaban masyarakat yang tidak lagi terdapat ketimpangan dan ketidak adilan. Kekayaan Negara dinikmati secara merata tanpa kasta kasta, dan tidak ada asset yang menjadi hak milik pribadi. Tatanan masyarakat tersebut hidup damai tanpa agama!… Nothing to kill or die for… And no religion too!  

Nama ‘Pemimpi’ yang menjadi ‘Pemimpin’ kaum Bolshevik tersebut adalah Vladimir Ilyich Ulyanov (1870 – 1924)… Siapa lagi kalau bukan Lenin!

Jika keduanya -Mr. Lennon dan Mr. Lenin- sama sama memiliki mimpi -yang relative- sama, atau setidaknya mirip. Lalu mengapa pada awal tulisan ini ada seruan untuk menjadi Mr. Lennon dan tidak atau bukan menjadi Mr. Lenin?

Kopitalisme: Ideologi Adalah Opium! 

Dalam alam kehidupan Komunisme dibawah pemerintahan Lenin, coba katakan “I love Capitalism!” maka nasib anda bisa dengan mudah diterka: kamp kerja paksa.

Sebaliknya, coba katakan “I miss Communism!” di alam seni, dalam kehidupan  ’state of art’,  maka anda akan berakhir di panggung pertunjukan! Tidak percaya?

“I miss Communism!” adalah one-woman show yang dipertunjukkan pada Edinburgh Festival Fringe, pada musim panas 2005. Yang mendapatkan nominasi dari Amnesty International Award dan Writer’s Guild Award.

Pertunjukan One-woman show tersebut diperankan oleh Ines Wurth dengan memainkan 15 buah karakter. Dia adalah seorang akris Croatia yang berdomisili di Los Angeles, dan dalam show tersebut menceritakan pengalaman hidup saat kekinian yang tersimbolkan dengan seragam cheerleader Amerika, maupun kisah masa kanak kanak berusia 7 tahun yang tersimbolkan dalam seragam Pioneer Komunis
Yugoslavia.

Sesungguhnya peran tersebut dimaksudkan sebagai sebuah drama yang mencoba menangkap moment moment komedi. Namun tentunya agak sulit menangkap apa yang lucu, jika sampai pada kisah tentang peperangan: Pecahnya
Yugoslavia.

Ines Wurth adalah anak seorang professor sebuah universitas di kota
Zagreb,

dengan kehidupan masa kecil yang sangat miskin. Yakni hidup di alam
Yugoslavia, dibawah kepemimpinan Josip Broz Tito (1892 – 1980) 

Dengan demikian, Ines Wurth menjalani kehidupannya dalam dua buah ‘dunia’ yang berbeda: Komunisme dan Kapitalisme. Apa yang dirindukannya dalam alam ‘Komunisme’ adalah saat ketika dia masih kecil dan masih polos. Belum memahami ‘realitas’ hidup yang sesungguhnya.  Memang semua orang sibuk bekerja sebagai suatu keharusan mengejar ‘mimpi’. Dan dilain pihak terdapat pula ‘realitas’ ketika orang tuanya bekerja sebagai dosen di universitas memiliki gaji yang sama dengan tukang pel lantai universitas atau gaji tukang pangkas rumput. Saat ketika generasi orang tuanya ngantri mendapatkan makanan, dan dilecehkan oleh penjaga toko. Karena si penjaga toko tak mungkin kehilangan pekerjaannya, meskipun pelayanannya amburadul. Semua barang yang terbaik disimpan dan hanya dimiliki oleh mereka yang memiliki akses terhadap pengurus setia partai. Bukan didapatkan berdasarkan kompetisi dan kreatifitas. Sebuah kenyataan yang tidak sempat dicerna oleh Ines ‘kecil’. 

‘State of mind’ Ines ini mungkin  ‘paralel’ dizaman ketika penulis sedang asyik asyiknya mengganggui rekan se SD dengan sebutan “Makmur cendol” si anak ingusan berwarna kehijauan seperti cendol. Dan selalu bersembunyi dibalik nama kakaknya itu. Sebuah ’state of mind’  dimana penulis menganggap dunia adalah tempat bermain dan bersenda gurau belaka. 

Demikianlah, menurut beberapa sumber individual maupun kelompok organisasi kemasyarakatan apa yang mengakibatkan pecahnya negri
Yugoslavia tersebut adalah keretakan ketahanan ekonomi dalam penerapan system pemerintahan. Yang kemudian terpicu oleh persoalan politik – ideologis yang mencuat dan meruncing. (Selama ini banyak yang menganggap bahwa perang Balkan adalah perang antar agama, Islam-Bosnia, melawan Serbia-Kristen, padahal antara Croatia dan Serbia yang sama sama Kristen adalah ‘kontestan’ perang Balkan yang termasuk paling lama setelah Kosovo yang relative masih berlangsung hingga saat ini) 

Kehidupan sosial-kemasyarakatan dimasa kekinian Croatia, sebagai salah satu pecahan dari
Yugoslavia, terdapat masih cukup kental dengan nuansa komunal – kekeluargaan maupun komunal – religius ( Katholik )

Dalam amatan langsung “Kopitalisme” tentang apa yang dikatakan oleh Karl Marx sebagai “Agama Adalah Opium” sudah sepantasnya mendapat koreksi dari “Kopitalisme” bahwa agama bisa mendatangkan kebajikan hanya jika tidak dijadikan sebagai ideology politik! Untuk itu maka bukan hanya ‘agama’ saja bisa menjadi opium, tetapi ‘ideology’ sekalipun bisa menjadi ‘opium’!… Nothing to kill or die for…

Kota Zagreb kini dipenuhi oleh berbagai jenis café yang indah indah dengan suasana perkotaan yang didesain sesuai  ‘human scale’.

Text-text teori teori -seberapapun idealnya- disertai dengan jargon jargon, slogan slogan “Perubahan Tatanan Peradaban” yang disulap -sedemikian sehingga- menjadi ‘ideology’ bisa menjadi candu bagi masyarakat dan rakyat kecil untuk sekedar dijadikan KOMODITI POLITIK… Seperti halnya apa yang dapat diperoleh tentang  ‘perubahan tatanan peradaban’ setelah 8 tahun Reformasi di Indonesia? Slogan Kosong?  

Tidak ada lagi waktu untuk jargon jargon… No more Talk… Talk… Talk… Tetapi Kreatif, Kreatif dan Kreatif !…

Dan tidak perlu lagi ada “Lenin” baik dalam skala besar maupun dalam “skala kecil” di tingkat dan skala akademistik sekalipun…

Tentu ada yang bertanya, mengapa ‘YES’ to LENNON? Tetapi ‘NO’ to LENIN? Jawabnya sederhana, Mr. Lennon mengutarakan mimpinya melalui ’state of art’… Nggak ada urusan dengan tetek bengek ‘ideology politik’… So, say NO to LENIN!

May FUN be with you

Kopitalisme

http://kopitalisme.tk

Tentang KOPITALISME dan Das KOPIkenTAL

•August 8, 2006 • 1 Comment

Kopitalisme” adalah sebuah  cara pandang atau perspektif -

sedemikian rupa sehingga-  dimana segala sesuatu adalah

“Karikatur”.  Baik pada level “sosiologis-politis” maupun masuk pada

level  “mind and mental” seseorang.  Semuanya -tanpa ampun- adalah

“Kartun” dan “Karikatur”!

Das KOPIkenTAL” adalah istilah yang kami gunakan bagi topik topik yang

sangat kami anjurkan untuk di copy dan didiskusikan dengan siapapun -

khususnya Sosiolog dan Budayawan- di warkop warkop, sebagai teman

minum kopi anda.