DAS KOPIkenTAL: Inilah Identitas Ke-Indonesia-an Itu: Talk…Talk…Talk…

Das KOPIlenTAL: Inilah Identitas ”Ke-Indonesia-an” itu: Talk Talk Talk… Sinyalimen dari “Kopitalisme” tentang “Talk Talk Talk” sebagai “Unfortunate Culture” bangsa ternyata diperlihatkan secara telanjang dalam debat “Mencari Keindonesiaan” di Forum Pembaca Kompas. Dipertontonkan oleh seorang “akademisi”. Persis seperti apa yang diillustrasikan dalam karikatur berikut: http://earthunion0.tripod.com/qarikatour/id15.html Pada awalnya, “Kopitalisme” mengomentari thread yang ditulis oleh Ninuk Mardiana Pambudi, yang setelah membaca artikel berjudul “Mencari Identitas
Indonesia”. Untuk selanjutnya “Kopitalisme” bermaksud akan mengaitkan dengan salah satu MASALAH SOSIAL, yakni: TINGKAT PENGANGGURAN.
 
http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0607/31/nasional/2844202.htm Di thread “Mencari KeIndonesiaan” ini, dipertunjukkan dengan “gemulai” oleh seorang “AKADEMISI” TERHORMAT, bahwasanya “KeIndonesiaan” itu adalah “Talk… Talk… Talk”… Persis apa yang disinyalir oleh “Kopitalisme” Hingga pada “Das KOPIkenTAL” ini dibuat, tanggapan terhadap artikel dari Ninuk Mardiana yang sedianya ingin dikupas oleh “Kopitalisme” justru tidak disinggung sama sekali. Kopitalisme ingin menunjukkan dimana “kebocoran” atas artikel tersebut.    Nah, Ikhwanul Cafein yang saya hormati, mari kita simak sambil minum kopi. Seperti biasa, “Kopitalisme” membuat statement yang bikin “sewot” dengan harapan pembaca atau penulis artikel tersebut terpancing untuk “brain storming”.  Postingan “Kopitalisme” adalah sebagai berikut: 

“Artikel ini menambah koleksi artikel yang saya kumpulkan sebagai “bukti” bahwa peran “Sosiolog” dan “Budayawan” (akademistik) di Indonesia terlambat mencerna fenomena “globalisasi”. Status mereka sebagai “intelektual” sudah patut dipertanyakan. Nampaknya mereka seperti baru terbangun dari mimpi buruk!” Lalu, selanjutnya terposting dengan quote sebagai berikut: Ngomong-ngomong, bisakah Anda lebih rinci memberi contoh sosiolog dan budayawan Indonesia mana yang Anda sebut “baru terbangun dari mimpi buruk” dan “terlambat mencerna globalisasi” itu? Umar Kayam? Mangunwijaya? Imam Prasojo? I. Wibowo? Goenawan Mohamad? Paulus Wilutomo? Komentar Kopitalisme:Apa barangkali definisi “intelektual” itu merupakan status yang sudah pasti sama dan sebangun dengan “staf pengajar”? Ataukah “intelektual” itu adalah harus seorang sarjana? Apapun itu, bagi “Kopitalisme” tidak penting karena it’s all about “status” aja…   Secara jelas, bahwa trik untuk menutupi ketersinggungan “status”nya sebagai “akademisi” adalah trik yang lumayan kampungan: Berlindung di balik nama nama tokoh, ketimbang –atas nama sendiri-  ingin mengupas isi artikel yang dibawakan oleh Ninuk Mardiana Pambudi.   Salah satu persoalan sosial dalam negri adalah tingkat pengangguran, hal mana telah lama menjadi pencermatan berbagai institusi dan lembaga baik pemerintah maupun non pemerintah. Sinyalimen sementara yakni salah satu penyebabnya adalah tidak sinkronnya teori teori yang diajarkan kepada mahasiswa dengan dunia real di luar kampus.  Apakah kaum sosiolog dan budayawan (akademisi) selama ini “bungkam” atas fenomena tersebut? Seperti apa yang diungkapkan oleh “Yanti”: Quote: saya sudah lulus dari jurusan soiologi di sebuah universitas di
Indonesia. Dari mulai masuk sampai saya sudah mendapatkan gelar sebagai seorang sarjana sosiolog, saya banyak menlean teori- teori yang banyak dari luar. semisal talcot parson, durkheim, weber,
foucoult, habermas, marx, dll tidak bisa saya sebutkan dan satu banding seribu menyebut ilmuwan
indonesia. yang kelemahannya adalah tidak ada sinkronisasi apa
yang dipikrkan oleh ilmuwan itu dengan konteks permasalahan di
indonesia. (Yanti Yanti)
 

Komentar Kopitalisme:Apakah “sosiolog” mau mengakui hal ini? Atau bungkam saja? Sekali lagi, salah satu permasalahan sosial dalam negri adalah TINGKAT PENGANGGURAN!    Selanjutnya, Kopitalisme memberi illustrasi melalui “tafsiran” atas “sabda” John Bon Jovi melalui surah “You give love a bad name” Dimana dalam reff dikatakan:” I play my part and you play your game, you give love a bad name” Untuk memperjelas perbedaan titik pandang. Kopitalisme memiliki ‘grounding’ dalam melihat realitas social tentang pengangguran, sedangkan yang satu lagi sibuk berlindung dibalik nama nama tokoh. Hingga disini, cukup bagi Kopitalisme membawa contoh salah satu “Unfortunate Culture” bangsa yang menjadi identitas keIndonesiaan: Talk… Talk… Talk…> Intellectual Exercise.Apa yang dituliskan dalam Das KOPIkenTAL: Trust, Business & NGO, sbb: Quote:Moreover, in the past many representatives of NGOs have not had much knowledge about the economy and the issues that are emerging…”  Apakah kata “NGO” diatas juga relevan jika kita menempatkan term “Sosiolog”? Pembaca bisa mencerna dan atau membahasnya sendiri…   

Selanjutnya akan kita simak: Das KOPIkenTAL: Lennon & Lenin. 

May FUN be with you 

Kopitalisme

http://kopitalisme.tk   

~ by kopitalisme on August 8, 2006.

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.